CD/DVD (Porno) Bajakan Komersil

Bisnis CD//DVD bajakan merupakan lahan bisnis yang paling menggiurkan dan lekas mendatangkan keuntungkan besar. Nama nama pemain di bisnis cakram bajakan ini, masih didominasi nama -nama lama, antara lain Hendra dengan tenaga marketing Hendrik patut diduga sebagai distributor cakram bajakan terbesar di Indonesia. Sedangkan Yoga S, patut diduga pula sebagai pemilik pabrik bajakan terbesar di Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI). Selain itu, Yohanes diduga sebagai pemilik pabrik bajakan cakram porno terbesar.

PARA pedagang eceran CD//DVD bajakan di Glodok, Tamansari, Jakarta Barat, membenarkan tentang nama-nama pemain di bisnis cakram bajakan di atas. Pasalnya, isu yang beredar di kalangan pedagang eceran , disebut-sebut nama Hendra dengan tenaga marketing Hendrik merupakan distributor CD//DVD bajakan terbesar di Indonesia. Kemudian untuk pabrik bajakan terbesar disebut sebut Yoga S yang diduga sebagai pemilik pabriknya, yang menyalurkan barang harammya itu kepada Hendra. Sedangkan untuk pabrik bajakan cakram porno disebut sebut nama Yohanes yang diduga sebagai owner nya.

“Kami masih mengambil CD//DVD bajakan dari mereka. Ada tanda khusus di CD//DVD bajakan yang diedarkannya mereka , ” kata salah seorang pedagang yang tidak mau disebutkan namanya kepada Koran Kota.

Hendra ketika dikonfirmasi Koran Kota, mengatakan ” Saya sudah tidak aktif lagi menggeluti bisnis itu, sejak enam bulan yang lalu. Selain itu, saya tidak kenal dengan Yoga,” ujar Hendra. Sedangkan Yoga S dan Yohanes, hingga berita ini diturunkan, belum berhasil dikonfirmasi Koran Kota.

Menurut pedagang eceran di Glodok, sepanjang harga CD//DVD yang asli mahal, sepanjang film film baru, harus menunggu lama di putar di bioskop, maka penawaran dan permintaan ( supply and demand) terkait CD/VCD/DVD bajakan akan terus berinteraksi antara konsumen dan pedagang. Karena pola hidup masyarakat Indonesia yang konsumtif.

Selain itu, peredaran CD/VCD/ DVD bajakan dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi, yang sangat dominan. Desakan kebutuhan ekonomi yang dialami masyarakat kerap kali memaksanya sebagai pengedar CD/VCD/DVD bajakan . Dengan mengedarkan baranng bajakan itu, mereka bisa memenuhi kebutuhannya. Selain itu juga, dari faktor pabrikan dan pengedar usaha cakram bajakan itu, tidak perlu mengeluarkan modal yang besar.

Lain daripada tu, penegakkan hukum tidak tegas, karena aparat penegak hukum sepertinya melakukan pembiaran terhadap para penjual, pengedar dan pabrikan CD//VD bajakan. ” Jadi kami santai-santai saja. Meskipun dioperasi, pasti besoknya akan beroperasi kembali. Karena permintaan dari konsumen banyak sekali. Apalagi film film serial cerita silat Mandarin, banyak peminatnya. Mereka biasa mengeluarkan Rp 200 ribu , untuk membeli serial silat Mandarin bajakan, “ungkap sumber Koran Kota.

Sebagaimana diwartakan Koran Kota , di Glodok, Tamansari, Jakarta Barat, merupakan pusat distributor CD//DVD bajakan terbesar di Indonesia. Pihak pabrikan tidak perlu lagi membayar artis, pencipta lagu dan pemusik serta royaltinya, begitu juga lagu dan musik asing serta film Indonesia, asing dan film film porno.

Para pabrik pembajak hanya bermodal CD R ( CD Kosong) Rp 1200 per keping, DVD R ( DVD kosong) RP 2000/keping, kemudian cetak label/ cover per keeping CD/ /DVD Rp 250,- selanjutnya CD dan DVD tadi dimasukan ke mesin pengganda . Dalam satu harinya pabrik pembajak bisa mencetak masing-masing 200.000 keping CD dan DVD.

Lalu pihak pabrik pembajak menyalurkan CD dan DVD yang sudah siap edar kepada distributor dengan harga jual untuk CD RP 2000/keping. Sedangkan untuk DVD Rp 6000/keping. Selanjutnya pihak distributor menyalurkan ke seluruh Indonesia dengan harga Rp 3000/per keping CD dan Rp 7000 /per keping DVD.

Di tingkat eceran harga VCD bajakan Rp 5000/keping, sedangkan untuk DVD Rp 10.000/keping.” Paling pabrikan hanya untung Rp 200 per keping CD/DVD. Sedangkan pihak distributor ambil keuntungan minimal Rp 1000/ keping CD/DVD bajakan. Yang paling banyak untung, tanpa modal besar adalah pihak distributor. Kalau pengecer untungnya tidak seberapa, karena harus mengambil ke sub distributor, ?kata sumber Koran Kota di Glodok, Jakarta Barat.

Pabrik Bajakan Terbesar

Isu yang beredar di kalangan para pedagang eceran CD/ VCD/DVD bajakan di Glodok, Tamansari, Jakarta Barat, disebut-sebut Yoga yang diduga sebagai pemilik pabrik bajakan cakram terbesar di Indonesia. Kabarnya, pabrik bajakannya berlokasi daerah Dadap dan di dekat Bandara Soekarno Hatta, Tangerang . Sedangkan Yohanes, diduga sebagai pemilik pabrik bajakan cakram porno yang berlokasi di Daan Mogot, Jakarta Barat dan Tangerang.

Kabar yang diperoleh Koran Kota, Yoga merupakan kawan dekat salah seorang mantan petinggi Polri , disebut-sebut Jenderal Polisi Purnawirawan berbintang empat, dalam bermain golf. Karena kedekatannya itu, ketika sang Jenderal Polisi itu masih menjabat dan berkuasa, tidak ada satupun aparat Korp Bhayangkara yang berani menyentuh pabrik bajakannya. Belakangan ini, Yoga diduga menyalurkan barang haramnya itu melalui Hendra dengan marketing Hendrik. Meskipun Hendra dengan tegas membantah tidak mengenal Yoga.

Sementara itu, Yohanes yang diduga sebagai pemilik pabrik bajakan cakram terbesar lainnya di Indonesia, kabarnya kini beroperasi kembali. Padahal pabrik bajakan cakram porno itu,pernah digerebek oleh pihak kepolisian. (Source Koran Kota Kriminal)

Oi! Oi! Oi!

Oi Oi Oi

www.000webhost.com